Rabu, 15 Juli 2020

Aku, Dirmu, Corona: The New Normal

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilonggarkan, membuat beberapa orang sudah merasa aman dan bebas untuk keluar. Ku tak bisa memberikan komentar atas hal itu, mungkin mereka juga punya target yang harus dikejar ketika tahu PSBB dilonggarkan. Hal yang bisa aku lakukan adalah menyiapkan amunisi, atau beberapa orang menyebutnya "New Normal Starter Pack". Pack bisa diganti menjadi kit. Masker kain, masker sekali pakai (biasanya untuk cadangan), handsanitizer, tisu basah. Mungkin beberapa orang akan mewajibkan dirinya membawa tisu kering, tapi belum untukku.

Mikrolet 32 (Perumnas Klender - Kp. Melayu) 24 Juni 2020. Pukul 13.27

Peralatan tersebut tentu perlu disiapkan. Bagaimana tidak?  Tidak semua angkutan umum menerapkan pembatasan fisik atau jaga jarak. Sebut saja mikrolet, "kejar setoran" yang mereka alami tetap membuat angkot tetap harus terisi penuh oleh penumpang. Ku tidak bisa menolak karena ini adalah kendaraan umum yang membawaku ke kantor. Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, paling penting adalah menjalankan jaga diri sebaik mungkin.
Mikrotrans Jak Lingko 39 (Duren Sawit - Kalimalang). 1 Juli 2020. Pukul 15:00

Sebagai perbandingan, angkutan umum yang dianaungi oleh PT Transjakarta yang disebut dengan Mikrotrans Jak Lingko mulai dioperasikan kembali per tanggal 1 Juli setelah sebelumnya mengalami vakum operasional akibat Corona. Video di atas menunjukkan protokol kesehatan dan pembatasan fisik yang diterapkan Mikrotrans tsb. Handsanitizer di pintu masuk mobil, dan pemberian tanda silang untuk memberi jarak antar penumpang di dalam kendaraan. Tidak kalah penting ditujukan kepada para penumpang, yaitu harus menggunakan masker selama berada di dalam mobil.

Stasiun Manggarai Peron 4. 28 Mei 2020. Pukul 17.11

Kebijakan sesuai protokol kesehatan sudah dibuatpun, tetap tidak membuat beberapa orang bijak. Sebut saja di stasiun, penerapan pembatasan fisik sudah dibuat, setiap peron sudah ada tanda dimana penumpang dapat berdiri menjaga jarak. Garis merah yang dibuat di statsiun tujukan kepada penumpang yang ingin menaiki kereta. Ya, apa boleh buat? Saya tidak mau dibilang durhaka dengan lebih galak dari bapak ini. Hehehe

Lapangan Parkir Masjid At-Tin TMII. 8 Juni 2020. Pukul 14:44

Corona tidak menghalangi urusan pribadi atau urusan yang berikaitan dengan tenggat waktu/masa berlaku sebuah sistem. Contohnya, perpanjang masa berlaku Suran Izin Mengemudi (SIM). Hampir  1500 orang berkumpul di satu titik hanya untuk urusan ini. Dibutuhkan kerjasama antara pihak kepolisian, pihak tempat, dan tentunya WNI yang ingin perpanjang SIM. Dari sekian banyak tempat yang aku kunjungi, mungkin Pos SIM Keliling Lapangan Masjid At-Tin yang terbaik. Area luas, pemberlakuan pembatasan fisik berjalan, dan protokol kesehatan tetap terjaga.

Rabu, 01 Juli 2020

Aku, Dirimu, Corona

Semoga yang membaca ini semua diberikan kesehatan dan dilapangkan rezeki. Amin!

Semenjak Virus Corona (Covid-19) hadir di Indonesia, tentunya timbul beberapa dampak yang mempengarhui kondisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Beberapa orang melihat ini sebagai musibah. Namun, musibah juga tidak datang tanpa alasan. Pada akhirnya, aku harus mencari hikmah dibalik ini semua.

Awal kemunculan Corona ini, langsung berimbas pada kegiatan perekonomian di lingkungan tempat tinggal. Hal paling sederhana adalah makanan. Beberapa tempat makan bahkan pedagang kaki lima memutuskan untuk tidak menjajakan dagangannya. Jalanan sepi, dan andalanku pada saat itu adalah tukang sayur yang masih bertahan.

Bagaimana dengan lebaran? Hari itu kami (keluarga) memilih solat Eid di sebuah kediaman kerabat yang memang sudah siap atas segala protokol kesehatan. Disinfektan chamber menjadi sesuatu yang mencolok di rumahnya untuk semua jamaah yang datang pada hari itu. Tentunya tidak ketinggalan tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan masker untuk jamaah yang tidak membawa masker sendiri.

Lebaran identik dengan berkumpul dengan keluarga. Aku mengerti untuk beberapa orang yang mengatasnamakan mudik untuk bertemu keluarga. Ya, apapun dilakukan untuk keluarga, bukan? Jadi, sesuai dengan kalimat pertama, kami mengunjungi rumah nenek atau ibu dari ibuku. Apapun dilakukan untuk keluarga. Tentunya tetap dengan protokol kesehatan. Alhamdulillah, sampai dengan detik ini aku menulis, mereka semua masih sehat.