Minggu, 15 Desember 2024

HAMPIR SAJA

Ku kira waktu itu akan baik-baik saja. Ku pikir, apa yang ku lakukan tidak akan membuatnya berpikir keras. Saat dia mengatakan untuk butuh waktu untuk sendiri, aku pikir aku sudah kehilangannya.

Aku bisa santai dengan itu? Tidak! Aku ingin terima semuanya? Ogah! Melenyut di pojok ruangan pun aku tak sanggup. Aku harus melakukan sesuatu. 

Satu kata sederhana. "Momentum"!

Hampir saja aku melepih kertas. Kertas yang sejak awal ku buat untuk menyusun rangkaian yang ku sebut momentum tadi. Derana.

Berpikir selesa dan sederhana. Aku tidak mau membuatnya rumit karena dia saja sudah rumit. Pertaruhan terakhir, lakukan ini atau tidak sama sekali.



Senin, 02 Desember 2024

SEPIHAK SEBELAH TANGAN

 Pola yang tak selesai terurai. Bertubi-tubi silent treatment. Pertanyaan yang tak terjawab. Keputusan yang sepihak. Tanpa keterangan. Tanpa penjelasan.

Kini seketika hal-hal di atas terlupakan saat dia kembali muncul. Sederhana dan tegasnya saja aku berkata "tidak!" 

Waktu itu... Ku habis-habisan mengalah, terus-menerus mengerti, mati-matian bertahan. Hingga sampai di tahap aku sepihak untuk sebelah tangan. Karena tangannya tidak menggapai. Ku sengaja, hanya untuk terlihat tetap normal. Tapi, kenyataannya memburuk setelah benar kepergiannya.

Uniknya, aku melakukan hal yang sama lagi untuk seseorang. Jauh lebih ugal-ugalan, tanpa imbalan. Siap dengan penolakan tanpa alasan. Tau akan sewaktu dirinya menghilang di titik yang tak terbayang.

      pic source: @winaydrs 

Langitnya berawan mendung di waktu yang tidak diharapkan. Aku hanya berharap pelangi muncul setelahnya di waktu yang tepat. Kapanpun itu! Aku padanya, selamanya!

Minggu, 03 November 2024

SEBEGITUNYA...

Sudah dibohongi berkali-kali, tetap bertahan. Sudah tahu kalau akan dibohongi terus-terusan, tetap menetap. Sudah tahu akan banjir air mata berulang-ulang, tetap tidak mau menghilang. Sudah tau dengan sandiwaranya, tetap saja tidak tau mengapa.

Kamu? Sebegitunya? Mau sampai kapan?

"Kalo aku liat dri salah nya dia, udh dri kapan tau aku lepas."  katamu.

Jujur, aku iri. Sudah kukatakan juga sebelumnya juga.

"Nangis juga ga bisa mengubah apapun" katamu lagi.

Kekuatan itu yang aku inginkan lagi. Kekuatan untuk sebegitunya untuk seseorang. Kekuatan untuk tidak peduli dengan hasil akhir. Kekuatan untuk bertahan walaupun sudah tau akan kekalahan. Kekuatan untuk selalu berharap ada kebahagiaan di akhir dengan satu orang itu. 

Sudah ku sampaikan bahwa aku menangis membacanya. Mengetahui keadaanmu. Namun, lagi-lagi kamu tertawa. Sebegitunya kamu tetap ingin bersamanya. Sebegitunya bahwa tangis sudah tiada guna. Aku berharap yang terbaik untukmu dan dirinya.

Gie, 03 November 2024

BAGAIMANA JIKA ANAK ITU MENARIK PELATUK?

 2010, RUMAH YANG BUKAN RUMAH. 23:00-02:00

Meja di tengah dua buah sofa yang berhadapan. Satu orang pria di sofa satu, satu orang anak yang belum genap 14 tahun. Satu buah senjata api (bentuknya kecil, sampai sekarang pun juga aku tidak tau itu senjata api jenis apa). Dialog didominasi sang pria tersebut.

Di atas meja itu, pistol diarahkan kepada pria tersebut, berhadap sang anak menarik pelatuknya. Pertanyaan sederhana muncul? Adakah peluru kah dalam pistol tersebut? Bagaimana sang anak akan memulainya? Meskipun itu memang sengaja diarahkan ke sang pria. 

Pada akhirnya, sang anak tidak ingin pria itu mati di tangannya meskipun dia tau dia punya momentum tersebut. Sang anak keluar dari rumah tersebut karena keputusan sang pria. 

...

Bagaimana jika kita memutar kembali waktu dan pelatuk itu benar ditarik oleh sang anak? Penjara anak kah? Bisa jadi. Sang kakak dari anak itu pasti membenci adiknya. Perkembangan sang anak? Tumbuh kembang dengan ayah yang dibunuh dengan tangannya sendiri..

Untungya....

Pelatuk yang tak ditarik, pintu geser yang terbuka, pintu depan rumah yang terbuka. Anak itu keluar dengan kekalahan telak. Rumah itu sudah menjadi kutukan sang anak semenjak dia meninggalkannya. 

Entah Tuhan itu adil atau tidak. Rumah itu sudah bukan milik sang ayah. Anak itu tahu sudah menduganya.

Selasa, 22 Oktober 2024

KUTUKAN BERANTAI

KARMA. SEBAB AKIBAT. SUMPAH SERAPAH. KUTUKAN.

Kata-katanya. Tingkah lakunya. Membuat orang berkeluh kesah namun masih di dalam hati. Tapi, akankah hanya sampai di situ saja? Tidak. Orang itu tidak akan membalaskan dendamnya secara langsung. Mungkin hanya sebuah doa pembalasan atau mungkin cuma kata-kata kasar semata. Kasus buruknya? Mengutuk balik. Akhirnya? Kutukan berantai.

Bagi mereka yang sadar akan kata dan tingkahnya yang buruk ke orang lain tapi dia juga yang kesal dikutuk, tentunya akan mengutuk balik. Siklus yang tidak akan berhenti.

Pencuri yang mencuri, yang dicuri mengutuk pencuri. Pencuri celaka, pencuri mengutuk yang mencelakainya. Yang mencelakainya akan menemukan tempat lain untuk mengutuk. 

Apakah memang Tuhan yang membuat sketsa seperti ini? Doa siapa yang sebenarnya yang dikabulkan-Nya?

Salemba, 23 Oktober 2024