Minggu, 03 November 2024

SEBEGITUNYA...

Sudah dibohongi berkali-kali, tetap bertahan. Sudah tahu kalau akan dibohongi terus-terusan, tetap menetap. Sudah tahu akan banjir air mata berulang-ulang, tetap tidak mau menghilang. Sudah tau dengan sandiwaranya, tetap saja tidak tau mengapa.

Kamu? Sebegitunya? Mau sampai kapan?

"Kalo aku liat dri salah nya dia, udh dri kapan tau aku lepas."  katamu.

Jujur, aku iri. Sudah kukatakan juga sebelumnya juga.

"Nangis juga ga bisa mengubah apapun" katamu lagi.

Kekuatan itu yang aku inginkan lagi. Kekuatan untuk sebegitunya untuk seseorang. Kekuatan untuk tidak peduli dengan hasil akhir. Kekuatan untuk bertahan walaupun sudah tau akan kekalahan. Kekuatan untuk selalu berharap ada kebahagiaan di akhir dengan satu orang itu. 

Sudah ku sampaikan bahwa aku menangis membacanya. Mengetahui keadaanmu. Namun, lagi-lagi kamu tertawa. Sebegitunya kamu tetap ingin bersamanya. Sebegitunya bahwa tangis sudah tiada guna. Aku berharap yang terbaik untukmu dan dirinya.

Gie, 03 November 2024

BAGAIMANA JIKA ANAK ITU MENARIK PELATUK?

 2010, RUMAH YANG BUKAN RUMAH. 23:00-02:00

Meja di tengah dua buah sofa yang berhadapan. Satu orang pria di sofa satu, satu orang anak yang belum genap 14 tahun. Satu buah senjata api (bentuknya kecil, sampai sekarang pun juga aku tidak tau itu senjata api jenis apa). Dialog didominasi sang pria tersebut.

Di atas meja itu, pistol diarahkan kepada pria tersebut, berhadap sang anak menarik pelatuknya. Pertanyaan sederhana muncul? Adakah peluru kah dalam pistol tersebut? Bagaimana sang anak akan memulainya? Meskipun itu memang sengaja diarahkan ke sang pria. 

Pada akhirnya, sang anak tidak ingin pria itu mati di tangannya meskipun dia tau dia punya momentum tersebut. Sang anak keluar dari rumah tersebut karena keputusan sang pria. 

...

Bagaimana jika kita memutar kembali waktu dan pelatuk itu benar ditarik oleh sang anak? Penjara anak kah? Bisa jadi. Sang kakak dari anak itu pasti membenci adiknya. Perkembangan sang anak? Tumbuh kembang dengan ayah yang dibunuh dengan tangannya sendiri..

Untungya....

Pelatuk yang tak ditarik, pintu geser yang terbuka, pintu depan rumah yang terbuka. Anak itu keluar dengan kekalahan telak. Rumah itu sudah menjadi kutukan sang anak semenjak dia meninggalkannya. 

Entah Tuhan itu adil atau tidak. Rumah itu sudah bukan milik sang ayah. Anak itu tahu sudah menduganya.