Kamis, 28 Januari 2021

Astria yang Hilang

 Buat ku, akan lucu jika punya sodara atau kekasih bernama Astria. Tapi akan menjadi sangat sedih kalau Astria versi tersebut hilang dari kehidupan. Mungkin tidak akan seperti yang telah terjadi. Kali ini Astria berupa benda.

Dengan kondisi di tengah wabah seperti ini, perlu adanya asupan yang tidak hanya dari makanan dan minuman, melainkan suplemen. Dalam kasus ku, kebutuhan yang terkandung di dalam Astria cukup dibutuhkan. Sebelum hilang, itu sudah pembelian kesekian. Tapi yang menarik memang pembelian terakhir.

Berisi 4 kapsul, setelah konsumsi pertama, keesokan harinya hilang. Padahal masih sisa 3 kapsul lagi. Ku mencarinya selayaknya barang hilang lain. Sulit, dan berujung tidak ketemu (sejauh ini). Akhirnya diri ini langsung menyimpulkan sendiri mungkin saja aku sudah terlalu banyak menkonsumsinya sehingga hari itu adalah pertanda kontrak kami telah berakhir. Hanya mempercepat keadaan agar ikhlas secara total. Dasar kau Astria! Haha!

Minggu, 24 Januari 2021

Gowes Gagal Yowes

Teman datang dan pergi. Satu kalimat ini cukup menggambarkan situasi tadi malam. Apapun memang bisa terjadi dalam sekejap. 

Berawal dari tweet sederhanaku tentang pesepeda yang kadang sembarangan mengemudikan sepedanya di jalan raya, karena saat itu aku sedang mengendarai mobil menuju rumah nenek. Sontak tweet itu dibalas salah satu sahabat yang minta dikabari jika nanti bersepeda di akhir pelan, tolong dirinya diajak. Karena dia yang menuliskan hal tersebut, aku mengingatnya baik-baik.

Muncul sebuah pekan, dimana aku sudah mengajaknya untuk bersepeda. Sepedahannya hari Minggu, aku sudah mengajaknya sejak hari Rabu. Aku pikir semua berjalan dengan aman-aman saja. Kemudian munculah kabar darinya, dia tidak bisa sepedahan demi bertemu sang kekasih untuk pagi-pagi di hari Minggu. "Wow!" dalam hati ku terkejut. Kadang memang berita seperti ini datangnya tipis dengan hari H. 

Dengan adanya berita tersebut, aku tidak mau menyia-nyiakan momen yang sudah ku buat sendiri. Dengan atau tidak dengan teman bersepeda, aku harus tetap bersepeda. Hal ini sudah sangat lama aku tidak lakukan. Karena saking lamanya, sepeda itu harus aku cuci.

Minggu pagi penuh dengan tanda tanya besar, apakah aku akan keluar atau tidak. Langit berkata sebuah kata-kata ketidakpastian dengan menunjukkan awan gelap tapi tak hujan. Aku melihat status WA muridku dengan posisi dia di tempat bersepeda yang tak jauh dari rumahku. Foto di status tersebut menunjukkan tempat yang masih kering. Ku hanya merespon "Yog, disana masih kering kah?" Kemudian Yoga membalas "masih kering pak". Kemudian aku keluar rumah dengan sepeda.

Sempat berpikir akankah tebak-tebakan dengan hujan ini akan segera berakhir. Ternyata seperjalanan menuju pulang, hujan deras pun menjawab. Dibilang gagal gowes enggak, dibilang enggak gowes juga enggak. Aku hanya berusaha mencari hikmah sepanjang waktu berteduh tepat di rumah makan Padang. 2,5 jam kemudian, hujan ringan pun aku terobos untuk sampai ke rumah. Memang sebegitunya.




Selasa, 05 Januari 2021

Aku, Dirimu, Corona: Me vs Anosmia & Parosmia

First thing first, hope you guys are safe, in healthy condition, and stay happy. ‘Cuz it’s still a long steep hill ahead. Sisanya pake bahasa aja ya. Hoho.

Janggal yang tidak terasa janggal! Mungkin sekitar akhir Agustus/ awal September, aroma-aroma itu perlahan memudar dan hilang, dan itu masih gak sadar total juga. Muncul Oktober, akhirnya muncul juga bahwa memang ada yang bermasalah. Harusnya memang gak sebodoh itu untuk sadar, tapi ya apa boleh buat.

Tapi, entah kenapa masih terlihat normal ya walaupun ada banyak yang terlewat. Biasanya paling sensitif sama bau polusi kendaraan dan asap rokok. Begitu bau itu ngumpul, masih sepi juga. Aroma segar pagi tiap naik kereta, sampai bau orang-orang pulang setelah seharian juga zonk. GAK KERASA! Sepanjang bulan itu Cuma bisa nyari-nyari hikmahnya apa.

Mulailah cerita ke beberapa orang. Satu dua ledekan mengarah kepadaku langsung mengenai Covid-19. Dalam hati bertanya, “lah emang iya?” Setelah ngecek sebentar ternyata hal tersebut masuk ke kategori gejala tidak umum. Sebenernya masih ada penolakan dalam diri ini kalo itu ya sakit aja, gak pake label corona.  Hingga akhirnya kesal sendiri, makan Bakmi GM yang harusnya ada aroma super enak itu, cuma bisa dinikmatin pake indera pengecap.

Masih berusaha menjalani hal-hal sambil menaruh pikiran baik bahwasannya aku baik-baik saja. Makan bareng, nonton bareng, apapun itu nikmatin aja sebisanya, SELAGI BISA! Ternyata setelah adanya manuver dengan beberapa obat, suplemen, dan rombakan pola makan, aroma baik itu muncul. Yang paling gampang aja deh! Parfum, awal-awal pas wangi parfum jadi zonk di hidung tuh rasanya emosi. Hoho. Maklum ceritanya mau kencan, mau mastiin wanginya pas apa enggak. Semprotan nyamuk, beh itu kalo gak ada nyamuk lewat juga mungkin gak ngeh baunya udah nongol lagi. Kemudian wangi dan bau lainnya kembali bermunculan.

Setelah banyak kejadian yang menimpa hati dan pikiran, nemu fokus jadi susah. Badan yang sempat nunjukkin tren baik, jadi flat dan cenderung was-was. Desember jadi saksi munculnya kejanggalan lain. Bau  asing, di tempat yang tidak tepat, dan juga di tempat yang tepat. Seolah kasih tau emang baunya ya begitu. Padahal tidak sama sekali. Karena hal tersebut, makanan mau seenak apa, mau lauknya banyak jenis ya semua jadi sama aja. Rasanya mau muntah, tapi apa daya. EMANG LAPER!!! Jadi makanannya tetap abis.

Setelah nanya beberapa dokter, maka jadilah judul yang aku bikin di atas. Gak perlu dijelasin, kalian tinggal selancar aja cek sendiri. Intinya, apapun bisa tejadi buat siapapun dan kapanpun. Gak bisa ketebak, cuma bisa berharap yang terbaik sembari mempersiapkan yang terburuk. Semoga 2021 bisa jadi tahun yang paling baik buat semuanya