2010, RUMAH YANG BUKAN RUMAH. 23:00-02:00
Meja di tengah dua buah sofa yang berhadapan. Satu orang pria di sofa satu, satu orang anak yang belum genap 14 tahun. Satu buah senjata api (bentuknya kecil, sampai sekarang pun juga aku tidak tau itu senjata api jenis apa). Dialog didominasi sang pria tersebut.
Di atas meja itu, pistol diarahkan kepada pria tersebut, berhadap sang anak menarik pelatuknya. Pertanyaan sederhana muncul? Adakah peluru kah dalam pistol tersebut? Bagaimana sang anak akan memulainya? Meskipun itu memang sengaja diarahkan ke sang pria.
Pada akhirnya, sang anak tidak ingin pria itu mati di tangannya meskipun dia tau dia punya momentum tersebut. Sang anak keluar dari rumah tersebut karena keputusan sang pria.
...
Bagaimana jika kita memutar kembali waktu dan pelatuk itu benar ditarik oleh sang anak? Penjara anak kah? Bisa jadi. Sang kakak dari anak itu pasti membenci adiknya. Perkembangan sang anak? Tumbuh kembang dengan ayah yang dibunuh dengan tangannya sendiri..
Untungya....
Pelatuk yang tak ditarik, pintu geser yang terbuka, pintu depan rumah yang terbuka. Anak itu keluar dengan kekalahan telak. Rumah itu sudah menjadi kutukan sang anak semenjak dia meninggalkannya.
Entah Tuhan itu adil atau tidak. Rumah itu sudah bukan milik sang ayah. Anak itu tahu sudah menduganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar