Bukannya ada kata lain yang bisa diperbolehkan untuk dikatakan? Tidakkah ada cara yang tepat selain mempersilahkan benci?
Memang keputusannya adalah haknya. Tapi tidak dengan melibatkan kebencian dari kedua belah pihak. Biarkan Sang Maha Membolak-Balikkan Hati yang bekerja. Jika Tuhan menjadikan sebuah hati menjadi sang pembenci, mungkin itulah yang terbaik. Pantas bukan menurutnya, tapi pantas menurut Tuhan.
Tabah, tenang, tidak terpancing emosi. Hanya dengan membaca kalimatnya, sudah cukup jelas.Tidak perlu menghalanginya. Tuhan sudah membuat sketsa. Maka itulah yang terjadi.
Tapi? Kembali terpikir. Apakah mempersilahkan benci juga bagian dari sketsa-Nya. Entahlah! Kenapa baru terpikirkan sekarang, ya? Bodoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar