Senin, 24 Februari 2025

KIRIMAN TUHAN

    Berkali-kali ku bilang, aku bukan pemburu. Berkali-kali ku katakan, aku bukan pencari. Tidak pernah ku katakan juga aku sedang menunggu. Aku hanya menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Jika memang ada yang membantu, mungkin lebih baik. Jujur saja, aku juga tidak berharap perbantuan itu akan menjadikan situasinya lebih baik. Ya, aku memang rumit.

    Aku yang sulit menjadi bahagia, bahkan susah tertawa. Aku yang mudah sedih, bahkan gampang menangis. Ribuan topeng ku suguhi untuk ribuan kondisi. Ratusan emoji ku simpan untuk ratusan keadaan. Puluhan jurus membaca kawan, persiapkan diri menjadi lawan. Cinta itu tak dapat kurasakan entah sampai kapan.

    Tuhan kirim satu, dua, tiga. Di kepala berpikir bahwa hasil akhirnya hanya akan membuat kecewa. Bagaimana bisa mereka mengatasi (aku) ini? Lalu tiga, dua, satu mereka hilang. Lalu untuk apa di awal Tuhan kirim? Aku memang tidak pernah berdoa untuk kiriman-Nya. Tapi rasanya seperti ada teka-teki yang harus aku jawab sendiri untuk apa kiriman tersebut.

    Empat, lima, enam dengan proses dan hasil yang sama. Ku pikir hanya membuang-buang waktu. Aku prihatin akan mereka. Ku pikir hanya membuat mereka repot. Aku merasa tak enak. Lantas, sampai kapan aku harus berkutat untuk memecahkan teka-teki ini? Tak terjawab. Energi terkuras, badan lemas, Kepala seperti sudah hilang akal, seperti semuanya akan ku sangkal. Gantung, tujuh delapan sembilan sepertinya aku salah hitung.

Harus berapa kali lagi Tuhan mengirim agar teka-teki ini terjawab?





1 komentar:

  1. Yakinlah pada Tuhan Bahwa apa yang dikirimkan untukmu itu yang terbaik...

    BalasHapus